Minggu, 25 Juni 2017

Pengawasan Penggunaan Obat Batuk Pilek



PENGAWASAN PENGGUNAAN OBAT BATUK PILEK YANG BEREDAR LUAS PADA ANAK – ANAK DIBAWAH 6

SUPERVISION OF USING COUGH ND COLD MEDICINE WIDELY CIRCULATED FOR CHILDREN UNDER 6 YEARS

GUSTI TIRTA ADISAPUTRA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BORNEO LESTARI
Jl. Kelapa Sawit 8 Bumi Berkat Kel. Sei Besar Banjarbaru

Abstrak
Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan , peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Batuk pilek merupakan gejala infeksi pada saluran pernafasan atas yang sering terjadi pada anak usia 7-12 bulan. Batuk pilek menjadi penyebab utama morbiditas anak usia di bawah 5 tahun di negara berkembang. Usia ini merupakan pondasi untuk usia-usia selanjutnya. Selain itu pada usia ini dikenal dengan golden age yaitu sebuah kondisi pada saat anak mengalami perkembangan fisik dan psikis yang sangat pesat.
Abstract
Drugs are materials or guides materials that are readily used to influence or investigate physiological or pathological systems for diagnosis, prevention, healing, recovery, health promotion and contraception. Coughing colds is a symptom of infection of the upper respiratory tract that often occurs in children aged 7-12 months. Cough colds are a major cause of childhood morbidity under 5 years in developing countries. This age is the foundation for later ages. In addition at this age is known as the golden age is a condition at the time of children experiencing physical and psychological development is very rapid

Keyword : Obat, Batuk Pilek, Anak - Anak



BAB I
PENDAHULUAN

 I.            PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Obat batuk pilek over the counter (OTC) banyak digunakan secara luas oleh orang tua untuk mengatasi keluhan batuk pilek pada anak. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan untuk tidak menggunakan obat batuk pilek yang dijual bebas pada anak usia di bawah 6 tahun oleh karena belum sepenuhnya teruji efektivitasnya pada anak, bahkan terdapat risiko efek samping berbahaya.
Batuk pilek merupakan penyakit saluran pernafasan yang paling sering mengenai bayi dan anak. Tetapi batuk pilek dapat diderita orang dewasa. Penyakit batuk pilek cenderung lebih besar karena mencakup daerah paranasal, telinga tengah dan nasofaring disertai demam yang tinggi, tetapi pada orang dewasa terbatas dan tidak menimbulkan demam yang tinggi.
Masa tunasnya adalah 1-2 hari dengan faktor predisposisi kelelahan, gizi buruk, anemia dan kedinginan.  Umumnya batuk pilek terjadi pada waktu pergantian musim. Komplikasi lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil dari pada anak lebih besar.Angka kesakitan yang terjadi karena batuk pilek di Indonesia pada tahun 2006 sekitar 86%, tetapi semuanya bisa sembuh dengan penanganan yang optimal.
Banyak bayi atau anak balita yang menderita penyakit batuk pilek terutama pada pergantian musim dan batuk pilek memerlukan intervensi yang mantap dan penanganan yang baik guna penyembuhan yang cepat.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana cara memberikan edukasi kepada orang tua untuk menentukan obat batuk pilek yang benar sesuai keluhan anak
2.      Bagaimana penanganan pertama batuk pilek pada anak

C.     TUJUAN
Penulisan jurnal ilmiah bertujuan untuk mengetahui dampak yang diberikan dari obat batuk pilek yang dijual bebas di pasaran untuk anak – anak dan memberikan edukasi kepada orang tua agar bijak membeli obat sesuai keluhan anak.

D.    MANFAAT PENULISAN
Penulisan jurnal ilmiah memberikan beberapa manfaat, yaitu dari segi akademis dapat memberikan informasi ilmiah pada masyarakat tentang penyakit batuk pilek, pemilihan obat yang tepat utuk penyakit batuk pilek Dari segi aspek ekonomi penyembuhan penyakit batuk pilek tidak hanya dari obat saja, tetapi banyak cara tradisional yang ampuh menyembuhkan penyakit batuk pilek.











BAB II
ISI
Zaman sekarang orang - orang menginginkan sesuatu serba instan salah satunya adalah kesehatan. Kesehatan merupakan sesuatu yang paling berharga dan tak ternilai harganya yang harus kita syukuri keberadaannya. Banyak orang yang mengabaikan kesehatan, mungkin banyak orang yang tidak mengerti cara menjaga kesehatan dengan benar. Orang – orang yang menurunnya kesehatan (sakit) biasanya tanpa pikir panjang langsung membeli obat sesuai dengan apa yang di derita, salah satunya dengan membeli obat tanda resep dokter.
Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Disamping memiliki manfaat yang besar, obat berpotensi untuk mendatangkan malapetaka apabila penggunaan obat tidak sesuai prosedur yang ditetapkan.
Menurut Anief (1991) pengertian Obat adalah suatu bahan atau campuran bahan yang di maksudkan untuk digunakan dalam menentukan  diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan termasuk memperelok tubuh.
Masyarakat harus memiliki pengetahuan tentang obat dan bagaimana cara menggunakannya secara tepat dan aman. Ketika menerima obat dari dokter atau apoteker seorang pasien harus mengetahui pasti cara menggunakan dari obat yang diterima dan jangan malu bertanya kepada dokter atau apoteker apabia masih kurang mengerti tentang petunjuk atau informasi yang diisampaikan.
Umumnya orang – orang berpikir bahwa semua obat itu sama yang dijual di warung, toko obat dan apotik karena memiliki tujuan untuk menyembuhkan atau meringankan suatu penyakit, tetapi obat dapat dibagi dalam beberapa golongan :
a.       Obat Bebas, ditandai dengan logo lingkaran bergaris hitam dengan bagian dalam bewarna Hijau. Tingkat keamanan penggunaan obat ini lebih tinggi dibandingkan tiga golongan lainnya dan dapat dibeli tanpa resep dokter (Anief, 1991).
b.      Obat Bebas Terbatas ditandai dengan logo lingkaran bergaris hitam dengan bagian dalam bewarna biru. Obat bebas terbatas bisa dibeli tanpa resep dokter dengan pertimbangan bahwa rentang keamanan penggunaannya lebih luas (Anief, 1991).
c.       Obat Keras pada kemasan terdapat logo lingkaran yang garisnya bewarna hitam dengan bagian dalamnya warna merah dan terdapat huruf K berwarna hitam ditengan logo. Obat golongan ini hanya bisa diperoleh dengan resep dokter karena pertimbangan keamanan bagi pengguna (Anief, 1991).
d.      Obat Narkotika ditandai dengan logo lingkaran bergaris warna merah dengan bagian dalam berwarna putih dan terdapat simbol yang hampir menyerupai tanda tambah yang berwarna merah di tengan lingkaran. Obat narkotika memerlukan pengawasan yang lebih ketat dari golongan obat keras karena bisa menimbulkan efek ketergantungan. Hanya bisa diperoleh di apotek atau rumah sakit berdasarkan resep dokter (Anief, 1991).
e.       Obat Psikotropika  logo sama dengan golongan obat keras. Perbedaannya adalah obat psikotropika dapat menimbulkan efek adiksi atau ketergantungan dan dapat mempengaruhi perilaku penggunanya dan diperoleh dengan adanya resep dokter (Anief, 1991).
f.       OWA (Obat Wajib Apotek) Surat Keputusan Nomor 347/Menkes/SK/VII/1990 tanggal 16 Juli 1990 adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter oleh apoteker di apotek.
g.      Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun untuk pengobatan (Syamsuni,2006)
       Reaksi obat dalam tubuh tidak semuanya sama. Ada kalanya obat memiliki reaksi yang cepat dan ada kalanya memiliki reaksi yang lambat. Semuanya tergantung faktor-faktor yang mempengaruhinya, diantaranya usia dan berat badan, jenis kelamin, faktor genetis, faktor psikologis, waktu, cara pemberian, dan lingkungan (Perry, 2005).       Faktor yang mempengaruhi Reaksi Obat diantaranya adalah :
a.         Absorbsi Obat yaitu proses pergerakan obat dari sumber ke dalam tubuh melalui aliran darah, kecuali jenis topical yang dipengaruhi oleh cara dan jalur pemberian obat, jenis obat, keadaan tempat, makanan, dan keadaan pasien (Perry, 2005).
b.      Distribusi obat kedalam tubuh, setelah diabsorbsi, obat didistribusikan ke dalam tubuh melalui darah dan system limfatis menuju sel dan masuk ke dalam jaringan tertentu. Proses distribusi dapat dipengaruhi oleh keseimbangan cairan, elektrolit, dan keadaan patologis (Perry, 2005).
c.        Metabolisme obat, setelah melalui sirulasi, obat akan mengalami proses metabolism. Obat akan ikut sirkulasi kedalam jaringan kemudian berinteraksi dengan sel dan mengalami perubahan zat kimia untuk kemudian diekskresikan (Perry, 2005).\
d.      Ekskresi sisa melalui obat, setelah obat mengalami metabolism atau pemecahan, akan terdapat sisa zat yang tidak dapat dipakai dan tidak bereaksi. Sisa zat ini kemudian keluar melalui ginjal dalam bentuk urine, intestinal dalam bentuk feses, dan paru dalam bentuk udara (Perry, 2005).
Cara Membeli Dan Mendapatkan Obat Yang Baik :
a.       Beli obat di Apotik atau Toko Obat yang memiliki ijin
Agar aman, sebaiknya membeli obat di apotik. Obat-obatan yang ada di apotik biasanya berasal dari distributor obat yang menyediakan obat yang di produksi oleh perusahaan farmasi (Pharmaceutical company).Apalagi apotik mempunyai izin resmi dari dinas kesehatan setempat dan dibawah pengawasan seorang apoteker, sehingga obat yang didapatkan dari apotik bisa kita jamin kualitas dan keasliannya.Selain di apotik, obat juga bisa didapatkan melalui toko obat. Namun perlu diperhatikan, dengan semakin menjamurnya toko obat, maka perlu lebih selektif dalam memilih toko obat. Lihat dulu apakah toko obat tersebut memiliki izin pendirian atau tidak dan tanyakan kepada pemilik toko obat dari mana penyediaan obat dari toko tersebut. Hal tersebut penting untuk menghindari mendapatkan obat yang kualitasnya buruk atau obat palsu (Hidayat, 2006).
b.      Cek obat yang akan kita beli
Untuk membedakan secara fisik apakah obat itu obat palsu atau obat asli. Namun ada hal mendasar yang dapat di jadikan dasar apakah obat itu asli atau palsu adalah "HARGA OBAT". Survey harga obat yang akan kita beli. Jika harga obat di suatu tempat lebih murah dengan perbedaan yang significant, maka bisa diduga bahwa obat itu adalah palsu. Hal lain yang perlu di perhatikan adalah tanggal kadaluarsa obat, dimana hal ini kadang kurang diperhatikan. Selalu lihat tanggal kadaluarsa obat. Jangan membeli obat yang sudah lewat tanggal kadaluarsanya, karena bisa jadi obat tersebut bukan menjadi obat, malah menjadi racun buat tubuh (Hidayat, 2006).
       Ingatlah ! Sebagian besar obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter, fungsi utamanya hanya untuk meringankan gejala dan mengobati penyakit ringan. Apabila mengalami menurunnya kesehatan (sakit) dalam jangka yang lama dan mengalami gejala menetap, maka konsultasikan ke dokter.
       Batuk pilek merupakan penyakit yang menyerang anak - anak maupun dewasa. Pada anak, batuk pilek banyak terjadi pada usia di bawah 6 tahun. Rata-rata setiap   anak mengalami 6 hingga 8 kali keluhan setiap tahunnya. Batuk pilek sebagian besar disebabkan oleh rhinovirus, adenovirus, virus influenza, enterovirus, RSV, dan coronavirus (Valman, 2006).
       Sebagian besar batuk pilek pada bayi disebabkan oleh virus RSV (Respiratory Syncytial Virus) yang bersifat self limited. Self limited disease merupakan suatu penyakit yang bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan tertentu  dan lebih cepat sembuh daripada yang disebabkan oleh bakteri. Jalan masuknya virus ke dalam tubuh adalah melalui partikel udara (droplet), lalu masuk ke hidung, menempel di permukaan dinding sel epitel, masuk ke bronkus, lalu ke traktus respiratorius (saluran pernafasan) sehingga timbul gangguan saluran pernafasan. Virus juga dapat menyebar ketika status imun anak menurun dan kontak langsung dengan penderita. Risiko batuk pilek pada anak dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah status gizi malnutrisi, berat badan lahir rendah, paparan asap rokok, riwayat tidak diberi ASI Eksklusif, status imun rendah, paparan asap kayu bakar untuk memasak, paparan obat nyamuk bakar dan daerah tempat tinggal (pedesaan/ kota) (Valman, 2006)
       Obat yang dijual bebas untuk keluhan batuk pilek, banyak digunakan oleh orang tua untuk mengatasi keluhan batuk pilek, banyak tersedia untuk anak dengan berbagai macam kombinasi. Obat batuk pilek yang beredar tersebut umumnya memiliki kandungan antihistamin, dekongestan, antitusif, ekspektoran, dan analgesik/anti- piretik (Danusantoso, 2000).
       Batuk sebagai refleks fisiologis anak, merupakan mekanisme tubuh untuk membersihkan saluran napas dan paru-paru dari mikroorganisme, lendir, dan benda asing. Namun, pemberian obat yang dilakukan oleh orang tua banyak ditujukan untuk menghentikan gejala batuk, kongesti nasal, dan rinorhea. Setiap minggunya, lebih dari 10% anak di Amerika Serikat diterapi menggunakan obat batuk pilek, dan sebagian besar sediaan memiliki kombinasi komposisi. Bukti ilmiah terhadap penggunaan obat batuk pilek. sangat sedikit, bahkan terdapat bukti peningkatan adanya efek merugikan (adverse event) (Danusantoso, 2000).
       Mengalami penyakit batuk dan pilek seolah menjadi sesuatu yang lazim untuk terjadi, terutama di musim penghujan. Jika seseorang terserang batuk pilek, aktivitasnya dapat terganggu karena banyak muncul rasa yang tidak nyaman dirasakan (Danusantoso, 2000).
       Umumnya penyakit batuk pilek sering kali diiringi dengan masuk angin dan nyeri di bagian-bagian tubuh tertentu. Oleh karena itu, pengobatannya yang cepat pun banyak dicari. Bagi kebanyakan orang. Obat Tradisional dianggap menjadi solusi yang tepat untuk menyembuhkan batuk pilek secara cepat, aman, dan mudah (Danusantoso, 2000).
       Tak hanya orang dewasa, anak - anak pun menjadi sasaran utama penyakit batuk pilek. Bahkan, bisa dibilang, mayoritas anak-anak menjadi langganan penyakit batuk pilek karena seringnya frekuensi kemunculan batuk pilek pada anak - anak. Ramuannya pun mudah untuk dibuat dengan campuran bahan-bahan dapur antara lain :
a.       Uap bisa membantu melancarkan hidung yang menyumbat. Caranya, nyalakan air panas di kamar mandi hingga menghasilkan uap. Lalu tutup pintu dan duduklah bersama anak Anda dalam ruang tersebut selama kurang lebih 15 menit. Lakukan terapi ini dua kali sehari (Valman, 2006).
b.      Madu dan Lemon, saat mengalami batuk dan pilek biasanya anak akan kesulitan bernapas akibat hidung tersumbat. Untuk mengatasinya Anda bisa memberikan campuran madu dan lemon guna melegakan tenggorokan dan mengatasi infeksi. Caranya, campurkan satu sendok teh madu dan lemon dalam air hangat (Valman, 2006).
c.       Kunyit merupakan rempah-rempah yang baik untuk meredakan batuk. Caranya, campurkan satu jumput bubuk kunyit pada susu yang biasa dikonsumsi si kecil sebanyak dua kali sehari (Valman, 2006).
d.      Jahe dan Kencur, membuatnya pun sangat mudah dan tidak rumit. Pertama-tama, memarkan kedua bahan tersebut pada ukuran kurang lebih 1 cm. Setelah itu, rebuslah dengan air pada takaran 1 gelas. Tunggu sampe mendidih, kemudian angkat. Diamkan hingga agak dingin, kemudian berikan pada anak di malam hari sebelum tidur (Valman, 2006).
Anak - anak pada umunnya dari usia 1-6 tahun rentan sekali namanya terjangkit penyakit karena sistem pertahan tubuhnnya anak – anak masih kurang efektif ketimbang orang dewasa. Salah satu penyakit yang sering adalah batuk  yang disertai pilek. Orang tua pasti sangat cemas pada anaknya pabila dalam kondisi sakit, terkadang orang tua membelikan obat yang tanpa tahu efek samping dari obat tersebut (Suhardjo, 2010).
Menurut Kasiram (1994), mengatakan anak adalah makhluk yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuannya itu merupakan totalitas psikis dan sifat – sifat serta struktur yang berlainan pada tiap  -  tiap fase perkembangannya.
Menururt Damayanti (1992), berpendapat bahwa merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih saying dan tempat bagi perkembangan.
Anak usia dini merupakan individu yang berada pada rentang usia 0-8 tahun. Usia yang merupakan pondasi untuk usia-usia selanjutnya. Selain itu usia 0-8 tahun dikenal dengan golden age yaitu sebuah kondisi pada saat anak mengalami perkembangan fisik dan psikis yang sangat pesat. Adapun dalam hal perkembangan yang sangat pesat tersebut, sangat dipengaruhi oleh kesehatan dari fisik dan psikis anak (Suhardjo, 2010).
Daya tahan tubuh anak - anak belum efektif seperti orang dewasa orang tua harus memperhatikan  kesehatan anak dengan cara :
a.       Pola makan yang  kebutuhan nutrisi,vitamin dan lainya tercukupi dengan makanan 4 sehat 5 sempurna.selain itu porsi makanan setiap harinya harus pas atau ideal maksudnya jangan berlebihan atau kurang maka dari itu harus pas (Suhardjo, 2010).
b.      Menjaga kebersihannya dalam keadaan kotor kuman dan bibit penyakit cepat berkembang biak,Maka dari itu anda sebagai orang tua WAJIB menjaga kebersihan dan kesehatan gigin. Menjaga kebersihan kuku dan anggota tubuh yang lainya, menjaga kebersihan pakaiannya (Suhardjo, 2010).
c.       Istirahat adalah proses untuk meringankan beban otak, selain itu juga pertumbuhan tubuh anak juga terjadi pada waktu beristirahat. tidur 8 jam sehari sudah cukup untuk anak (Suhardjo, 2010).
d.      Jangan Melindungi Terus Membiarkan anak bermain tanah atau air akan membuat tubuhnya ‘mengenal’ berbagai kuman, virus, atau bakteri. Dari pengenalan itulah tubuh akhirnya mampu menghasilkan antibodi untuk melawan kuman, virus, atau bakteri tersebut. Dengan demikian anak tidak akan mudah sakit. Hal tersebut berbeda dengan anak yang selalu dijaga terus. Tubuhnya tidak mampu ‘melawan’ jika ada penyakit datang karena tidak pernah ‘berkenalan’ dengan sumber penyakit (Suhardjo, 2010).
Banyak yang berpendapat bahwa anak memiliki masa keemasan pada otaknya. Dimana pada saat itu ilmu yang diajarkan dapat cepat terserap sempurna oleh otak dan langsung diaplikasikan.  Masa keemasan otak tersebutlah yang kadang tidak diketahui oleh para orang tua yang notabene bertindak sebagai pendidik paling awal dan paling dekat dengan anak. Oleh karena itu disini akan diuraikan sedikit tentang masa keemasan otak yang terjadi pada usia 0-3 tahun. Masa keemasan otak terjadi saat perkembangan anak usia 0-3 tahun. Pada masa ini kemampuan otak untuk menyerap hal hal baru lebih cepat dari usia setelah 3 tahun. Kita dapat melihat dari  perkembangannya yang terjadi sangat pesat pada usia 0-3 tahun(Suhardjo, 2010).
Mulai dari gerakan motorik pada awal dilahirkan bayi sangat terbatas dalam melakukan banyak kegatan motorik. Bahkan hanya untuk secara reflek mengedipkan matapun tidak bisa. Yang bisa dilakukan hanya sesekali menggerakkan kepala, menendang dan menggerakkan kedua tangan. Keterbatasan melakukan kegiatan yang bersifat motorik berlangsung selama 3 bulan. Setelah 3 bulan bayi mulai mampu menggerakkan banyak dari anggota tubuhnya. Mulai dari memiringkan badan hingga tengkurap. Biasannyah juga bayi mulai mengangkat kakinya ke arah muka. Pada fase bayi sudah dapat melakukan kegiatan motorik yang cukup rumit. Setelah menginjak 7 bulan biasanyah bayi mulai merangkak. Hal tentu dapat dikuasai apabila bayi sudah mampu tengkurap dalam jangka waktu yang cukup lama dan mampu mengangkat kepala pada saat posisi tengkurap. Setelah melewati tahapan merangkak maka dengan cepat si bayi akan belajar berdiri sendiri dengan cara berpegangan pada tembok atau dengan dilatih oleh orang tua. Setelah merasa mampu berdiri dengan baik maka dengan sendirinya si bayi belajar berjalan. Begitu cepat proses perkembangan motorik anak dari usia 0-3 tahun sehingga biasanyah menginjak usia 3 tahun si anak sudah dapat bermain dn berlari-larian dengan temannya (Suhardjo, 2010).
Selain perkembangan motorik, si anak juga mengalami perkembangan kelima panca indranya. Dimulai dari bayi yang baru lahir dan belum dapat menggunakan indranya dengan baik hingga menginjak usia 3 bulan. Setelah itu kelima indra anak seolah dihidupkan secara otomatis dan mulai mengenal sensasi di tiap indranya. Mulai dari itu dikumpulkan data-data mengenai sensasi tiap-tiap indra dan menyimpannya sebagai memori. Jadi pada saat bertemu kembali dengan sensasi yang sama, si anak akan bisa memilih apakah ditolak atau dilanjutkan (Suhardjo, 2010).
Pada usia 4-6 tahun tahun anak bersifat konsumen aktif. Anak sudah bisa memilih makanan yang disukai. Libatkan mereka untuk memilih makanan yang akan dikonsumsi. Pertumbuhan anak golongan usia 4-6 tahun tidak sepesat pertumbuhan pada masa bayi. Namun aktivitas anak sudah lebih banyak. Usia 4-6 tahun sangat rentan terhadap penyakit defisiensi gizi dan infeksi, misalnya KEP (Kurang Energi Protein) dan kekurangan vitamin A. Makanan yang diberikan sebaiknya makanan yang mudah docerna dan tidak merangsang saluran cerna, misalnya tidak pedas (Suhardjo, 2010).
Orang tua harus tahu hal-hal yang harus diperhatikan dalam memenuhi kecukupan gizi anak :
a.       Memberikan makanan yang mudah dikunyah dan mudah ditelan
b.      Membiasakan mengkonsumsi makanan yang berasal dari biji-bijian kering yang banyak mengandung zat besi, terutama untuk anak usia 1-3 tahun
c.       Memberikan sayuran dan buah-buahan yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral
d.      Menyajikan makanan dalam bentuk yang menarik
e.       Memperhatikan peralatan makan dan minum anak
f.       Hindari memaksa anak untuk menghabiskan makanan yang disajikan
g.      Selalu menyediakan makanan yang sehat dan bergizi seimbang
h.      Membiasakan sarapan untuk mencegah hipoglikemi (lapar,lemas, dan kurang bersemangat) (Suhardjo, 2010).







BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Obat adalah benda atau zat yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau mengubah proses kimia dalam tubuh. Obat adalah substansi yang berhubungan fungsi fisiologis tubuh dan berpotensi mempengaruhi status kesehatan. Pengobatan / medikasi adalah obat yang diberikan untuk tujuan terapeutik / menyembuhkan.
Sebagian besar orang tua memberikan obat batuk pilek apabila anaknya sakit. Komposisi kombinasi obat batuk pilek yang banyak digunakan adalah klorfeniramin maleat, parasetamol, gliceryl guaicolate, pseudoefedrin, dextromethorphan dan bromhexine. Efek  samping  mengantuk  yang  terbanyak  dirasakan  oleh subjek.
Kejadian batuk pilek pada bayi dengan riwayat pemberian ASI Eksklusif lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang tidak ASI Eksklusif. Terdapat perbedaan jumlah episode dan lama hari sakit batuk pilek selama 2 bulan antara bayi dengan riwayat pemberian ASI Eksklusif dan tidak diberi ASI Eksklusif

B.     SARAN
Dapat mengetahui dan dapat meningkatkan wawasan tentang obat, pemantauan kejadian ISPA pada anak sebaiknya tidak hanya   didasarkan pada gejala medis saja, melainkan juga dipantau secara rutin riwayat pemberian ASI Eksklusif. Dan dengan disusunnya makalah mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat mengetahui dan memahami arti obat serta dapat memberikan kritik dan saran nya agar makalah yang ditulis dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.



DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.Aziz Alimul, 2006, Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika
Anonim. Pengobatan untuk batuk pilek umumnya tidak efektif. Didapat dari: (Online) http://batukpilek.com/pengobatan-untuk-batuk- pilek-umumnya-tidak-efektif.html. (Diakses 18 Mei 2017).
Danusantoso H. 2000. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Penerbit Hipokrates; Halaman  64.
Valman B. 2006. Gangguan dan Penyakit yang sering menyerang anak serta cara mengatasinya. Yogyakarta: Camar; Halaman  94.
Suhardjo. 2010. Pemberian makanan pada bayi dan anak. Yogyakarta: Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI); Halaman 14.
Anief, M. (1991). Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Yogyakarta:  PenerbitGajah Mada University Press. Halaman 3.
Perry potter. 2005. Fundamental keperawatan konsep proses dan praktik. Jakarta : EGC
Murini, Tri. 2013. Bentuk Sediaan Obat (BSO) Dalam Preskripsi. Yogyakarta : UGM Pres
Kasiram, A. 1994. Pertumbuhan anak, Jakarta  : Rajawali
Damayanti. 1992. Anak Tumbuh dan Berkembang. Jakarta : Medika Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar